Jumat, 16 November 2012

Sejarah Tahun Baru Islam-Sejarah Tahun Hijriyah



Sejarah Tahun Baru Hijriyah – Sejarah Tahun Baru Islam- Penanggalan Hijriyah - Sejarah Tanggal Hijriyah - Sejarah Perhitungan Tanggal Hijriyah - Jika kita bicara tentang sejarah tahun baru islam atau sejarah penanggalan Hijriyah maka hal itu tak lepas dari sejarah hijrahnya Nabi Muhammad SAW. Bagi teman-teman yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang sejarah tahun baru islam atau sejarah penanggalan Hijriyah, berikut ini saya berikan ulasannya untuk teman-teman sekalian.

Sejarah Tahun Baru Islam Pada tahun 682 Masehi, ‘Umar bin Al Khaththab yang saat itu menjadi khalifah melihat sebuah masalah. Negeri Islam yang semakin besar wilayah kekuasaannya
menimbulkan berbagai persoalan administrasi.
Surat menyurat antar gubernur atau penguasa daerah dengan pusat ternyata belum rapi karena tidak adanya acuan penanggalan. Masing-masing daerah menandai urusan muamalah mereka dengan sistem kalender lokal yang seringkali berbeda antara satu tempat dengan lainnya.


Maka, Khalifah ‘Umar memanggil para sahabat dan dewan penasehat untuk menentukan satu sistem penanggalan yang akan diberlakukan secara menyeluruh di semua wilayah kekuasaan Islam.


Sistem penanggalan yang dipakai sudah memiliki tuntunan jelas di dalam Al Qur’an, yaitu sistem kalender bulan (qamariyah). Nama-nama bulan yang dipakai adalah nama-nama bulan yang memang berlaku di kalangan kaum Quraisy di masa kenabian. Sejarah Tahun Baru Hijriyah


Namun ketetapan Allah menghapus adanya praktek interkalasi (Nasi’). Praktek Nasi’ memungkinkan kaum Quraisy menambahkan bulan ke-13 atau lebih tepatnya memperpanjang satu bulan tertentu selama 2 bulan pada setiap sekitar 3 tahun agar bulan-bulan qamariyah tersebut selaras dengan perputaran musim atau matahari.


Karena itu pula, Sejarah Tahun Baru Islam arti nama-nama bulan di dalam kalender qomariyah tersebut beberapa di antaranya menunjukkan kondisi musim. Misalnya, Rabi’ul Awwal artinya musim semi yang pertama. Ramadhan artinya musim panas.


Praktek Nasi’ ini juga dilakukan atau disalahgunakan oleh kaum Quraisy agar memperoleh keuntungan dengan datangnya jamaah haji pada musim yang sama di tiap tahun di mana mereka bisa mengambil keuntungan perniagaan yang lebih besar.


Praktek ini juga berdampak pada ketidakjelasan masa bulan-bulan Haram. Pada tahun ke-10 setelah peristiwa hijrah, Allah menurunkan ayat yang melarang praktek Nasi’ ini:


“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram…” [At Taubah (9): 38]

“Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran. Disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah… ” [At Taubah (9): 39]


Sejarah Tahun Baru Hijriyah Dalam satu tahun ada 12 bulan:

1. Muharram

2. Shafar

3. Rabi’ul Awal

4. Rabi’ul Akhir

5. Jumadil Awal

6. Jumadil Akhir

7. Rajab

8. Sya’ban

9. Ramadhan

10. Syawal

11. Dzulqa’idah

12. Dzulhijjah

Sedangkan 4 bulan Haram, di mana peperangan atau pertumpahan darah dilarang, adalah: Dzulqa’idah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.


Peristiwa Hijrah sebagai Tonggak Kalender Islam


Masalah selanjutnya adalah menentukan awal penghitungan Kalender Islam ini. Apakah akan memakai tahun kelahiran Nabi Muhammad  seperti orang Nasrani? Apakah saat kematian beliau? Ataukah saat Nabi diangkat menjadi Rasul atau turunnya Al Qur’an? Ataukah saat kemenangan kaum Muslimin dalam peperangan?

Tanggal kelahiran Nabi Muhammad tidak dijadikan dasar sebagai awal penanggalan kalender islam, karena tanggal itu masih menjadi kontroversi mengenai waktu dalam kejadiannya.

Sejarah Tahun Baru Islam Adapun hari wafatnya Rasulullah tidak pula dijadikan dasar sebagai tanggal permulaan kalender Islam , karena dikhawatirkan akan mempengaruhi kaum muslimin dalam kesedihan yang berkepanjangan terhadap kenangan-kenangannya semasa beliau.


Ternyata pilihan majelis Khalifah ‘Umar tersebut adalah tahun di mana terjadi peristiwa Hijrah. Karena itulah, kalender Islam ini biasa dikenal juga sebagai kalender Hijriyah. Kalender tersebut dimulai pada 1 Muharram tahun peristiwa Hijrah atau bertepatan dengan 16 Juli 662 M. Peristiwa hijrah Nabi sendiri berlangsung pada bulan Rabi’ul Awal 1 H atau September 622 M.


Pemilihan peristiwa Hijrah ini sebagai tonggak awal penanggalan Islam memiliki makna yang amat dalam. Seolah-olah para sahabat yang menentukan pembentukan kalender Islam tersebut memperoleh petunjuk langsung dari Allah. Seperti Nadwi yang berkomentar:


“Ia (kalender Islam) dimulai dengan Hijrah, atau pengorbanan demi kebenaran dan keberlangsungan Risalah. Ia adalah ilham ilahiyah. Allah ingin mengajarkan manusia bahwa peperangan antara kebenaran dan kebatilan akan berlangsung terus. Kalender islam mengingatkan kaum muslimin setiap tahun bukan kepada kejayaan dan kebesaran islam namun kepada pengorbanan (Nabi dan sahabatnya) dan mengingatkan mereka agar melakukan hal yang sama.”

note Sejarah Tahun Baru Hijriyah:

Para sahabat memilih hari hijrah Rasul saw sebagai awal untuk memulai hidup baru pada tahun yang baru, di mana kaum Muhajirin mengikuti Rasulullah dan rela meninggalkan Makkah menuju Madinah untuk memulai kehidupan yang baru.

Demikianlah ulasan mengenai sejarah tahun baru islam atau penanggalan hijriyah. Semoga menambah wawasan teman-teman sekalian.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar