Pages

Jumat, 05 April 2013

Selaput Dara Buatan dan Cara Menggunakanya

selaput dara palsu
selaput dara palsu
Keperawanan bagi masyarakat di dunia timur termasuk di Indonesia hingga detik saya menulis posting ini masih merupakan kehormatan yang sangat berharga dan menjadi kewajiban setiap wanita perawan untuk menjaganya hingga menikah. Sistem sosial di Negara-negara timur sangat mengkondisikannya sehingga tidak jarang jika wanita yang diketahui tidak menjaga keperawanan dengan baik sebelum malam pertama seringkali dituduh pernah berhubungan seks di luar nikah sebelumnya. Kondisi ini menyebabkan beberapa wanita yang sudah terlanjur memiliki selaput dara yang robek mencari berbagai cara agar terkesan masih perawan ketika berhubungan intim di malam pertama. Salah satu terobosan terbaru untuk memenuhi kebutuhan ini adalah dengan diluncurkannya produk selaput dara palsu. Penasaran bagaimana cara kerja produk ini dan apa dampaknya bagi kesehatan? Baca selengkapnya di sini.
Selaput dara palsu ini sudah diproduksi oleh China dan saat ini paling banyak digunakan di Jepang. Bentuknya berupa selaput tipis berwarna merah yang terbuat dari kolagen dan dimasukkan ke dalam vagina pada saat akan melakukan hubungan intim malam pertama. Akibatnya ketika saat penetrasi di malam pertama, selaput tipis ini memberikan kesan menghambat penis sehingga suami mengira bahwa istrinya seorang perawan, terlebih lagi ketika produk ini pecah karena desakan penis bisa memberikan kesan keluarnya darah setelah berhubungan intim.
Namun ada banyak kritikan yang ditujukan pada produk ini, baik dari segi moralitas maupun kesehatan. Banyak ahli kesehatan yang tidak menganjurkan wanita menggunakan produk ini karena bisa mengakibatkan alergi yang serius pada vagina. Dan dari segi moralitas, penggunaan selaput dara palsu ini cenderung membohongi suami. Selain itu, dengan beredarnya produk ini, setiap wanita perawan cenderung akan merasa tidak perlu lagi menjaga keperawanan dan mendorong mereka untuk mau melakukan hubungan intim di luar nikah. Tentunya mereka berfikir praktis, nggak apa-apa berhubungan seks sebelum nikah, masalah keperawanan itu khan bisa diperbaiki nanti ketika malam pertama.
Saya rasa anda pun setuju dengan saya,  karena kita sama-sama bangsa timur. Ada yang ingin menambahkan pendapat? Silakan berikan komentarnya :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar